KESULTANAN KASEPUHAN CIREBON
Fungsi dan Peranannya Pada Setiap Zaman
Belum
Terdokumentasikan
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
A. Sobana Hardjasaputra

Fakta
sejarah menunjukkan, Cirebon semula (sejak tahun 1482) adalah Kerajaan Islam,
pusat penyebaran agama Islam di daerah Jawa Barat. Sejak tahun 1677 status
Kerajaan Islam Cirebon berubah menjadi kesultanan terbagi atas
kesultanan-kesultanan Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Berarti sampai saat
ini kesultanan-kesultanan tersebut memiliki perjalanan sejarah lebih dari tiga
abad. Dalam kurun waktu itu, kesultanan di Cirebon mengalami zaman Kompeni, pemerintah
Hindia Belanda, pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan.
Beberapa
tulisan memang menyinggung kesultanan di Cirebon. Akan tetapi, bagaimana
eksistensi kesultanan dan peranan sultan-sultan Cirebon pada setiap zaman,
dapat dikatakan belum terungkap. Pada beberapa tulisan bahkan tahun berdirinya
Kesultanan Kasepuhan berbeda-beda.
Pada
zaman penjajahan, sultan memiliki kedudukan dan peranan yang unik. Pada satu
sisi, sultan adalah pemimpin kesultanan sekaligus pemimpin tradisional. Pada
sisi lain, sultan merupakan objek dari kekuasaan asing. Kedudukan dan
peranan sultan sebagai penguasa kesultanan sekaligus sebagai pemimpin
tradisional, hampir belum terungkap.
Oleh
karena itu, dalam program revitaslisasi keraton di Cirebon dengan Keraton
Kasepuhan sebagai pilot project,
hendaknya revitalisasi itu tidak hanya ditujukan pada aspek fisik, tetapi juga
pada aspek non-fisik. Dalam berbincang-bincang dengan Sultan Sepuh XIV PRA.
Arief Natadiningrat, SE tanggal 4 Juni 2013, beliau menyatakan bahwa aspek
non-fisik memang sudah dalam pemikiran beliau. Dalam pemikiran saya, salah satu
aspek non-fisik itu adalah eksistensi Kesultanan Kasepuhan pada setiap zaman
perlu diteliti.
Pada
setiap zaman yang dialaminya tentu sultan-sultan memiliki pengalaman penting,
baik yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai penguasa kesultanan maupun
sebagai pemimpin tradisional. Pengalaman para sultan itu penting untuk dikaji,
karena totalitas pengalaman manusia di masa lampau sangat berharga untuk
dipetik makna dan manfaatnya. Historia
Vitae Magistra , ”sejarah adalah guru kehidupan”. Manfaat yang dimaksud
adalah sebagai bahan acuan dalam menghadapi kehidupan masa sekarang dan masa
yang akan datang. Hal itu sesuai dengan cakupan dimensi sejarah, yaitu past – present – future. Kehidupan masa
sekarang adalah hasil dan kesinambungan dari masa lampau, dan kehidupan masa
mendatang adalah hasil dan kesinambungan masa kini.
Penelitian itu terutama dimaksudkan
untuk mengetahui:
Ÿ Bagaimana
kedudukan dan peranan kesultanan/sultan serta fungsi keraton pada setiap zaman?
Ÿ Seberapa
jauh peranan sultan selaku pemimpin kesultanan dan pemimpin tradisional, baik dalam bidang
pemerintahan mupun dalam bidang sosial ekonomi
dan budaya pada setiap zaman?
Jawaban atas kedua pertanyaan itu tidak hanya
bersifat deskriptif-naratif, tetapi juga bersifat analisis, sehingga dapat
dipetik maknanya.
Hasil
penelitian diharapkan memiliki kegunaan praktis bagi pihak kesultanan khususnya
dan pihak-pihak lain yang terkait umunya, yaitu sebagai bahan acuan dalam membuat
kebijakan untuk menghadapi atau mengatasi permasalahan masa kini dan
memprediksi masa yang akan datang.
Kegunaan
hasil penelitian secara umum adalah untuk melengkapi dokumentasi kesejarahan
Cirebon, khususnya kesejarahan kesultanan. Hasil penelitian ini juga memiliki
arti penting sebagai salah satu referensi bagi para pemandu wisata daerah
Cirebon dan para peneliti masalah kesultanan, dan mungkin pula berguna sebagai
sumber acuan bagi revitalisasi keraton di Cirebon, khususnya Keraton Kasepuhan.
Bandung, 9 Juni 2013
Mengenai
sejarah Cirebon sudah ada beberapa tulisan. Berdasarkan sifatnya,
tulisan-tulisan itu terbagi atas sejarah populer, ilmiah-populer, dan sejarah ilmiah. Namun pada
umumnya tulisan-tulisan itu baru merupakan penggalan-penggalan dari sejarah
Cirebon periode tertentu dan mengenai aspek tertentu. Tulisan sejarah Cirebon
yang bersifat komprehensif hasil penelitian secara ilmiah, hampir belum ada.
Fakta
sejarah menunjukkan, Cirebon semula (sejak tahun 1482) adalah Kerajaan Islam,
pusat penyebaran agama Islam di daerah Jawa Barat. Sejak tahun 1677 status
Kerajaan Islam Cirebon berubah menjadi kesultanan terbagi atas
kesultanan-kesultanan Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Berarti sampai saat
ini kesultanan-kesultanan tersebut memiliki perjalanan sejarah lebih dari tiga
abad. Dalam kurun waktu itu, kesultanan di Cirebon mengalami zaman Kompeni, pemerintah
Hindia Belanda, pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan.
Beberapa
tulisan memang menyinggung kesultanan di Cirebon. Akan tetapi, bagaimana
eksistensi kesultanan dan peranan sultan-sultan Cirebon pada setiap zaman,
dapat dikatakan belum terungkap. Pada beberapa tulisan bahkan tahun berdirinya
Kesultanan Kasepuhan berbeda-beda.
Pada
zaman penjajahan, sultan memiliki kedudukan dan peranan yang unik. Pada satu
sisi, sultan adalah pemimpin kesultanan sekaligus pemimpin tradisional. Pada
sisi lain, sultan merupakan objek dari kekuasaan asing. Kedudukan dan
peranan sultan sebagai penguasa kesultanan sekaligus sebagai pemimpin
tradisional, hampir belum terungkap.
Oleh
karena itu, dalam program revitaslisasi keraton di Cirebon dengan Keraton
Kasepuhan sebagai pilot project,
hendaknya revitalisasi itu tidak hanya ditujukan pada aspek fisik, tetapi juga
pada aspek non-fisik. Dalam berbincang-bincang dengan Sultan Sepuh XIV PRA.
Arief Natadiningrat, SE tanggal 4 Juni 2013, beliau menyatakan bahwa aspek
non-fisik memang sudah dalam pemikiran beliau. Dalam pemikiran saya, salah satu
aspek non-fisik itu adalah eksistensi Kesultanan Kasepuhan pada setiap zaman
perlu diteliti.
Pada
setiap zaman yang dialaminya tentu sultan-sultan memiliki pengalaman penting,
baik yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai penguasa kesultanan maupun
sebagai pemimpin tradisional. Pengalaman para sultan itu penting untuk dikaji,
karena totalitas pengalaman manusia di masa lampau sangat berharga untuk
dipetik makna dan manfaatnya. Historia
Vitae Magistra , ”sejarah adalah guru kehidupan”. Manfaat yang dimaksud
adalah sebagai bahan acuan dalam menghadapi kehidupan masa sekarang dan masa
yang akan datang. Hal itu sesuai dengan cakupan dimensi sejarah, yaitu past – present – future. Kehidupan masa
sekarang adalah hasil dan kesinambungan dari masa lampau, dan kehidupan masa
mendatang adalah hasil dan kesinambungan masa kini.
Penelitian itu terutama dimaksudkan
untuk mengetahui:
Ÿ Bagaimana
kedudukan dan peranan kesultanan/sultan serta fungsi keraton pada setiap zaman?
Ÿ Seberapa
jauh peranan sultan selaku pemimpin kesultanan dan pemimpin tradisional, baik dalam bidang
pemerintahan mupun dalam bidang sosial ekonomi
dan budaya pada setiap zaman?
Jawaban atas kedua pertanyaan itu tidak hanya
bersifat deskriptif-naratif, tetapi juga bersifat analisis, sehingga dapat
dipetik maknanya.
Hasil
penelitian diharapkan memiliki kegunaan praktis bagi pihak kesultanan khususnya
dan pihak-pihak lain yang terkait umunya, yaitu sebagai bahan acuan dalam membuat
kebijakan untuk menghadapi atau mengatasi permasalahan masa kini dan
memprediksi masa yang akan datang.
Kegunaan
hasil penelitian secara umum adalah untuk melengkapi dokumentasi kesejarahan
Cirebon, khususnya kesejarahan kesultanan. Hasil penelitian ini juga memiliki
arti penting sebagai salah satu referensi bagi para pemandu wisata daerah
Cirebon dan para peneliti masalah kesultanan, dan mungkin pula berguna sebagai
sumber acuan bagi revitalisasi keraton di Cirebon, khususnya Keraton Kasepuhan.
Bandung, 9 Juni 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar